Belajar Kepemimpinan Heroik dan Nasionalisme dari Soegija

Salah satu poster film Soegija
Kalau Anda mampir ke bioskop akhir-akhir ini, Anda akan melihat poster film nasional yang sedang ngehits berjudul Soegija (baca: Sugiyo). Film tersebut disutradarai oleh Garin Nugroho, penata musik oleh Djaduk Ferianto, serta dibintangi oleh Nirwan Dewanto dan Butet Kertaradjasa. Dengan deretan nama-nama besar tersebut, tentu saja film ini bukan film biasa. Film ini mengisahkan seorang tokoh besar yang namanya diabadikan menjadi nama suatu universitas di Semarang dan nama jalan di beberapa kota besar. Walaupun begitu, belum banyak orang yang mengenalnya dan bertanya-tanya, “siapa sih Soegija itu?”
Diplomat yang Membuka Mata Dunia akan Kemerdekaan Indonesia
Kalau Anda diberi pertanyaan, “Negara mana yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia?”, apa jawaban Anda? Beberapa teman yang saya tanya menjawab Belanda, Jepang, Amerika, Perancis, bahkan Korea Utara – namun tidak satu pun yang benar. Jawaban yang tepat adalah Vatikan dan Soegija yang bernama lengkap Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ ini merupakan aktor utama di balik pengakuan kemerdekaan tersebut. Hal ini membuktikan kekuatan diplomatik Soegija yang sangat dipuja oleh Soekarno kala itu karena setelah aksi diplomatik tersebut, negara-negara lain mulai mengenal dan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Soegija, Soekarno, dan utusan Vatikan ketika Vatikan hendak mengakui kemerdekaan Indonesia
Soegija sendiri lahir di Surakarta pada 25 November 1896 dan merupakan seorang pastor yang akrab disapa Romo Kanjeng. Gelar Mgr. alias Monseigneur (baca: monsinyur) merupakan gelar yang diberikan oleh Gereja Katolik setelah ia diangkat menjadi Uskup (pemimpin umat Katolik suatu wilayah) pribumi pertama di Indonesia pada jaman menjelang kemerdekaan. Sedangkan gelar SJ yang berada di belakangnya merupakan identitas sebagai bagian dari ordo Jesuit, sebuah organisasi yang bertahan hampir 500 tahun lamanya hingga saat ini.
![]()
Jenderal (Anumerta) Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Gelar lain yang dimiliki oleh Soegija adalah Jenderal (Anumerta) yang diberikan ketika ia meninggal pada 22 Juli 1963. Sesaat setelah Soegija meninggal, Soekarno langsung memerintahkan agar ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal Semarang dalam upacara kemiliteran. Hal ini juga menunjukkan bahwa Soegija merupakan pahlawan nasional yang sangat diakui jasanya terhadap bangsa Indonesia. Apa saja bukti nasionalismenya?
Pemimpin Heroik 100% Indonesia
Chris Lowney – Managing Director J.P. Morgan dan seorang mantan Jesuit – dalam bukunya Heroic Leadership: Best Practices from a 450-Year-Old Company That Changed the World mengatakan ada empat prinsip kepemimpinan heroik:
- Kesadaran diri: paham akan kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan perspektif dunia
- Kecerdikan: berinovasi secara percaya diri dan beradaptasi pada perubahan dunia
- Kasih: melibatkan orang lain dengan sikap positif yang dapat mengeluarkan potensi mereka
- Kepahlawanan: memberikan energi kepada diri sendiri dan orang lain dengan ambisi heroik dan semangat kesempurnaan

Buku Heroic Leadership karangan Chris Lowney
Empat prinsip tersebut merupakan rangkuman dari best practices yang terjadi pada organisasi Jesuit sehingga dapat bertahan sampai ratusan tahun. Empat prinsip tersebut secara otomatis dimiliki oleh Romo Kanjeng sebagai seorang Jesuit yang sekaligus membuktikan nasionalismenya:
- Kesadaran diri: Soegija sadar bahwa ia merupakan seorang uskup yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi umat Katolik Indonesia (dan Belanda) saat itu. Ia menciptakan slogan yang sangat terkenal, yaitu “100% Katolik, 100% Indonesia” yang merupakan suatu simbol bahwa umat Katolik sebagai bagian integral bangsa Indonesia. Ia bahkan meminta umat Katolik Belanda untuk mendukung perjuangan Indonesia kala agresi militer Belanda pertama. Ia pun menyatakan nilai utama yang ia pegang teguh, yaitu kemanusiaan dalam ungkapannya yang terkenal yaitu “Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya,kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan.” Hal ini menunjukkan bahwa Soegija sangat menjunjung tinggi kesatuan sebagai umat manusia, apa pun latar belakangnya. Selain itu, Soegija sadar akan kemampuan silent-diplomacy-nya yang ia manfaatkan untuk membuat Vatikan sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
- Kecerdikan: Soegija melihat bahwa kondisi Indonesia saat agresi militer Belanda kacau balau sehingga ia berani memindahkan keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta seiring dengan pemindahan ibukota Indonesia. Ia melihat bahwa terjadi gejolak dan perubahan politik, sehingga ia memutuskan untuk mendukung penuh pemerintahan dengan cara memindahkan pengaruh dan kekuasaannya. Dengan berpindahnya Soegija, ia dapat memberikan pengaruh dan dukungan langsung kepada pejuang Indonesia yang kala itu menghadapi serangan militer Belanda di Yogyakarta sehingga kemenangan pun diraih. Tidak hanya itu, dalam kondisi tersebut Soegija menulis artikel di majalah Amerika, Commonwealth, yang menggambarkan penderitaan rakyat Indonesia sehingga mendapat perhatian dari masyarakat internasional.
- Kasih: Soegija sangat dekat dengan keluarga Soekarno, sehingga ketika di Yogyakarta, Soegija sempat merawat dan menjaga keluarga Soekarno ketika Soekarno dan Hatta ditangkap oleh Belanda saat agresi militer Belanda kedua. Kasih pun ditunjukkan oleh Soegija ketika pertempuran lima hari di Semarang usai dan kondisi rakyat kelaparan. Ia mengutus utusan untuk mengirim pesan kepada Perdana Menteri Sutan Syahrir hingga akhirnya bahan pangan dikirimkan ke Semarang dan rakyat tidak lagi kelaparan.
- Kepahlawanan: Soegija pernah marah dan membentak pemuda gereja yang menanyakan apakah mereka harus ikut berjuang membela kemerdekaan Indonesia. Ketegasan jawabannya tertuang dalam kata-kata tajamnya, “Pergilah berjuang dan baru kembali kalau sudah mati!” Ia juga menunjukkan keberaniannya ketika tentara Jepang hendak menyita Gereja Randusari untuk digunakan sebagai markas tentara dengan menjawab mereka ”Ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dahulu kepala saya, maka Tuan baru boleh memakainya.” Sontak tentara tersebut mundur dan mengurungkan niatnya.
Nah, setelah membaca sepak terjang seorang Soegija, apa pun latar belakang kita, berani kah kita mengatakan bahwa kita 100% Indonesia dan dengan totalitas mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkannya? Apakah kita juga berani menjadi pemimpin heroik dalam memimpin tim atau organisasi kita baik di tempat kerja, sekolah, masyarakat, bahkan rumah? Silahkan tuliskan tanggapan Anda di kolom komentar
Catatan: film Soegija tidak mengangkat mengenai tokoh agama, namun tokoh bangsa yang peduli akan kemanusiaan. Kebetulan saja ia merupakan seorang pastor dan atribut Katolik yang tergambar dalam film tersebut tidak dapat dipisahkan darinya. Fakta yang sangat menarik adalah Garin Nugroho bukan seorang nasrani, bahkan Nirwan Dewanto yang memerankan Soegija merupakan muslim tulen yang tidak berubah keyakinannya setelah rampung bermain film ini. Film ini juga dipuji Sultan Hamengku Buwono X serta dijadikan bahan diskusi oleh forum-forum lintas iman terkait dengan fokusnya akan kemanusiaan.


Nice writing!
I wish the world may see it and open their mind. So, no more discrimination on religion and race.
Setelah baca tulisan mu ini, aku jadi tertarik nonton soegija, man ^^
Jadi penasaran ma film nya.
btw, ada berita tentang alasan pembuatan film ini gak? Mungkin sebaiknya dimasukkan ya.. Aku pengen tau bagaimana komentar para crew film tersebut tentang film ini.
Thanks for sharing, bro ^^
Thanks untuk komennya Jina
Tontonlah, menurutku sinematografinya sangat apik.
Tapi jangan mengharapkan aksi heroik seperti The Avengers ya hehe, heroiknya Romo Kanjeng beda
Hmm..kalau alasan pembuatannya ak belum mendalaminya (halah, bahasanya :p).
Sepertinya motif utamanya mau mengangkat tokoh sejarah yang tidak terekspos besar-besaran, tapi entahlah betul atau tidak.
Sungguh mulia perjuangan Beliau. Setelah membaca artikel ini saya mendapat pengetahuan baru tentang negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. 100% Katolik dan 100% Indonesia…sungguh sebuah kata yang sungguh berani dan penuh patriotisme. Ku angkat topi dan salam hormat ku buat Perjuangan mulia Almahrum Bapak Uskup Jenderal (Anumerta) Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Tuhan Yesus memberkati.
Terima kasih untuk komentarnya Mas Franc Costil
Yups, betul sekali. Angkat topi untuk beliau yang berjuang sedemikian berani dan cerdiknya pada jaman itu.
Dan sekarang tugas kita untuk mengisi kemerdekaan yang beliau perjuangkan bersama pahlawan bangsa lainnya.
Mengenai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, saya mendapat pengetahuan ini ketika menghadiri misa di Katedral.
Dalam homili, romo … (maaf saya lupa namanya karena jarang ke Katedral) yang promosi mengenai film ini bercerita mengenai heroisme Romo Kanjeng.
Saya jadi terpukau ketika mengetahui lebih dalam mengenai pribadi beliau yang selama ini hanya saya kenal namanya saja.
mungkin lebih tepatnya “Negara EROPA pertama yg mengakui kedaulatan Indonesia”
Terima kasih komentarnya Mas Arie
Wah, pengetahuan baru nih. Kalau begitu mana negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia yang Mas Arie ketahui? Saya waktu itu mendapat informasi bahwa Vatikan adalah negara tersebut. Namun mungkin ada versi lain yang mengatakan hal yang berbeda.
negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia adalah Mesir, Mesir mengakui secara de facto kemerdekaan RI sejak 22 Maret 1946, dan secara de jure pada November 1947. Vatican mengakui kedaulatan indonesia pada 1950, seiring dengan adanya hubungan diplomatik RI-Vatikan pada tahun tersebut. Namun Vatikan adalah negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan RI
Wah, terima kasih atas koreksi dan tambahan ilmu pengetahuannya mas
I like it! Saya dah nntn film’nya.. Kerennn,aplg ada temen saya yg nyanyi d film it (harusnya saya jg muncul d sana,wkwk..)..
Pertama sh ngiranya film ini bkal mengangkat banyak sisi Kekatolikan seorg Soegija tp t’nyata justru lbh bnyak b’cerita ttg kepatriotisme’an seorg Soegija dlm sisi kemanusiaan kala perang.. Film ini bnyak memberi pelajaran sejarah,p’juangan dan tentu saja kasih bagi sesama.. Like it so..
For me this is not a ‘chatolic’ movie.. everyone should watch it.. because from this movie,we could learn how to love one another..
makasih bwt ulasan+info2nya..
#pengen nonton lg..
Terima kasih atas komentarnya Mba Carolina Dewi
Wah, padusnya IPPAK USD ya jangan2? hehe
yups, this is a movie about humanity, love, and bravery
Saya yakin, dukungan dari teman-teman adalah sumber kekuatannya.perubahan cukup dari diri masing2,dan keluarga.dan jelas adalah yakin dengan jalur yang kita pilih. perubahan sudut pandang cukup dari penghormatan yang layak kepada apapun dan siapapun, kebudayaan mengandung filosofi, dan filosofi adalah kekuatan bangsa cina, jepang dan itu telah terbukti. indonesia penuh dengan filosofi. maaf, ini hanyalah ajakan, bukan permintaan, saya cuma ingin INDONESIA JAYA, CUKUP ITU tidak lebih. salam GB Us